Kisah Menantikan Kekasih

1/

Pada awalnya, kasih tak pernah kutakar, apalagi
sengaja kutukar. Rindu tiap hari mekar. Bara
asmara tengah berkobar. Tetapi, kau tiba-tiba
hilang tanpa kabar. Kabur menanggalkan dan
meninggalkan kisah yang belum kelar.

Namun, aku setia menantimu dengan sabar.
Bersama waktu yang terus-menerus berputar,
penantianku tidaklah sebentar.

Hingga suatu hari, ada kabar yang pahit
terdengar. Samar-samar, kulihat ada sebuah
kartu undangan di meja kamar: undangan
pernikahanmu yang katanya tak sendiri kauantar.

Kau telah dipinang oleh seorang pria yang
tentunya lebih pintar. Getir raga serta jiwaku
serempak kompak bergetar.

2/

Ada janur kuning yang tinggi berkibar. Pada hari
pernikahanmu, kepalaku disiksa jangar. Di depan
altar, di jari manismu, pastinya sebuah cincin
emas telah melingkar.

Sedang air yang memabukkan ini berusaha
menguatkanku agar tidak jatuh terkapar
mengetahui sisa harapan dari kesetiaan yang
sudah buyar. Tetapi, pada akhirnya aku jatuh juga
ke dalam pengar.

Tadinya, kukira semesta hanya sedang
berkelakar. Tetapi, ternyata semua ini adalah
benar. Ada janji yang harus rela ingkar. Sepasang
kesetiaan dan penantian harus rela bubar.

Hati yang dahuli kupagar, terpaksa harus segera
kupugar. Kotak kenangan harus segera kubongkar.

3/

Pada akhirnya, aku hanya menua pada kesetiaan.
Binasa pada kesia-siaan penantian.

Serupa daun yang jatuh perlahan pada tanah
yang garing. Serupa aku yang meruntuh perlahan
lalu mati mengering.

2012

(Kamu) Dalam Akrostik

:githa sofiyaningsih

Getar itu tiba-tiba datang menerjang
Impresi saat melihat matanya pertama kali
Tubuhku kaku, alam (tak) sadarku hanyut
Hilang seluruh pertahananku, aku terjatuh
Aku jatuh ke dalam kedalaman matanya

Senyum matanya begitu halus dan membius
Oh, inikah opium? Aku telah menemukan paradiso
Fibrasi hebat menghunjam tajam seluruh saraf
Impuls dari sepasang matanya menjadi adiksi
Yang selalu menyengatkan listrik jutaan henry
Aku dibuat takluk, bertekuk tunduk tiada daya

Namun, ternyata kau hadir sebagai pelita harapan
Iluminasi bagi gulita gundah gulana hati
Nirwana bagi getirnya neraka kehidupan
Gairah agar aku tak pernah berhenti berjuang
Simplifikasi bagi segala perkara yang kompleks
Izinkan aku mengabadikan engkau pada puisi
Hiduplah, sayangku, kekal sebagai kekasih

2013-2015

sembilan bait musik musim hujan

musim hujan membawa masuk musik
merasuk khusyuk ke rerusuk ingatan
ialah ricik air hujan berjejatuhan
tak deras namun lama perlahan
membawa serta lahan-lahan
kenangan berbisik-bisik pelan

entah dari balik bilik daun pintu
daun jendela atau barangkali dari
tembok-tembok kamar yang berdaun
seseorang datang bagai bocah malang
yang begitu girang menerjang layang-layang

sudah berhari-hari ia berlari terengah
bersusah payah berupaya singgah
menghampiri kau yang tengah lelah
sibuk bekerja atau malah sibuk resah
berdiam diri di antara deduri rindu sendiri

alunan musik musim hujan
menarik jejari lentik tangan
kau menari bersama kenangan
di atas buku catatan yang entah
tinggal tersisa berapa halaman

ruang riang ingatan yang kuno kini
semakin terdengar meraungkan gaung
seseorang yang senang kau kenang
menggenangkan air yang tenang
di sepasang kantung mata kau yang
mengutip kantuk yang ingin mengatup
tapi entah mengapa tak jua lekas menutup
sebab barangkali rindu masih meletup-letup

dari bebulu mata yang lentik dalam detik
hujan kembali berjejatuhan pelan dan lamban
merintikkan titik-titik serupa jentik
di atas securak-carik kertas tua antik
yang kian lama kian terlihat amat cantik

air yang bergemericik asik ialah larik musik
sedang liriknya ialah kata-kata yang kau petik
dari balik bilik lampau kemarau yang terik
hingga kata hujan seperti selalu terdengar
sebagai kata kita yang sebentar seperti halilintar
menggelegar di luar hingga bergetar ke lelangit kamar

embusan angin dingin makin mengantar
angan berputar-putar dalam refrain lagu
lugu yang senang bersenandung di lindung
mendung yang meneduhkan punggung

ingatlah ketika segala menghujankan aku dan
kau memusimkan hujan sepanjang tahun dan jalan
musik musim hujan tak pernah berhenti berputar
dimainkan di relung palang ingatan yang paling palung
membendung seseorang yang ingin selalu pulang
kembali ke bandung: tempat yang telah dengan hebat membuat hatinya jatuh tersandung sekaligus terikat pada
jatuh cinta tak berujung

September, 2014

sesekali

dalam perjalananmu
ke masa depan
engkau telah menanggalkan
dan meninggalkan
bangunan sanubari

yang, barangkali,
kini telah
menjadi reruntuhan
masa silam

kukumpulkan kembali
puing-puing yang
b  e  r  j  e  j  a  t  u  h  a  n
dari dadamu itu

lalu kubangun
sebuah istana kecil
dan kau menyebutnya:
kenangan

sesekali, berkunjunglah
ke sana ketika
sesak di dadamu
sesekali membuat
kau terisak

berkunjunglah, sesekali,
agar engkau tahu
seberapa megah
dan mewah dirimu
di dadaku

dulu. kini. nanti.

September, 2015