Kisah Menantikan Kekasih

1/

Pada awalnya, kasih tak pernah kutakar, apalagi
sengaja kutukar. Rindu tiap hari mekar. Bara
asmara tengah berkobar. Tetapi, kau tiba-tiba
hilang tanpa kabar. Kabur menanggalkan dan
meninggalkan kisah yang belum kelar.

Namun, aku setia menantimu dengan sabar.
Bersama waktu yang terus-menerus berputar,
penantianku tidaklah sebentar.

Hingga suatu hari, ada kabar yang pahit
terdengar. Samar-samar, kulihat ada sebuah
kartu undangan di meja kamar: undangan
pernikahanmu yang katanya tak sendiri kauantar.

Kau telah dipinang oleh seorang pria yang
tentunya lebih pintar. Getir raga serta jiwaku
serempak kompak bergetar.

2/

Ada janur kuning yang tinggi berkibar. Pada hari
pernikahanmu, kepalaku disiksa jangar. Di depan
altar, di jari manismu, pastinya sebuah cincin
emas telah melingkar.

Sedang air yang memabukkan ini berusaha
menguatkanku agar tidak jatuh terkapar
mengetahui sisa harapan dari kesetiaan yang
sudah buyar. Tetapi, pada akhirnya aku jatuh juga
ke dalam pengar.

Tadinya, kukira semesta hanya sedang
berkelakar. Tetapi, ternyata semua ini adalah
benar. Ada janji yang harus rela ingkar. Sepasang
kesetiaan dan penantian harus rela bubar.

Hati yang dahuli kupagar, terpaksa harus segera
kupugar. Kotak kenangan harus segera kubongkar.

3/

Pada akhirnya, aku hanya menua pada kesetiaan.
Binasa pada kesia-siaan penantian.

Serupa daun yang jatuh perlahan pada tanah
yang garing. Serupa aku yang meruntuh perlahan
lalu mati mengering.

2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s