punggung

1.
bekas luka waktu di pundakmu
tak lain hanyalah demam pada bayi.
tak usah kau terlalu risau!
sepasang sayap cantik sedang tumbuh
dan tambah kuat di punggungmu.

2.
puncak gedung tak lagi jadi tujuan.
kau menyaksikan langit dan laut
tengah menyiapkan pemandangan
—yang lebih cantik dari lanskap
lampu-lampu kota pada malam hari.

3.
kehilangan hanyalah terpa angin
namun jika badai mematahkan sayapmu
jangan takut! bukankah telah kuserahkan
sepasang sayapku padamu?

4.
terbanglah. terbanglah. terbanglah.
langit dan laut menunggumu.

Oktober 2015

mencintai kesedihan

aku mencintai kesedihan

kesedihan begitu setia
mencintai kebahagiaanmu
ia sering berlindung
di balik rahasia

rahasia betah
tinggal berbulan-bulan
ia bahkan sanggup
bertahan bertahun-tahun
tak tanggal dari kelopak
dan bebulu matamu

matamu menyimpan bom waktu
yang sewaktu-waktu bisa meledak
tanpa kabar atau tanda peringatan

tanda peringatan telah kuterima
tetapi selalu kuabaikan
dengan dalih demi kebaikan

kebaikan kesedihan atau 
kebaikan kebahagiaan 
mana yang sedang kauperjuangkan?

kauperjuangkan seseorang
dan mengabaikan seseorang
yang terus memperjuangkanmu

memperjuangkanmu atau
memperjuangkan cinta adalah
salah satu cara bunuh diri
tetapi aku rela membunuh aku

aku mencintai kesedihan

kesedihan begitu setia
mencintai kebahagiaanmu
ia sering berlindung
di balik rahasia

rahasia betah
tinggal berbulan-bulan
ia bahkan sanggup
bertahan bertahun-tahun
sampai sajak ini berhenti
dituliskan oleh aku

aku mencintai kesedihan

kesedihan begitu setia
mencintai kebahagiaanmu
ia sering berlindung
di balik rahasia

rahasia betah
tinggal berbulan-bulan
ia bahkan sanggup
bertahan bertahun-tahun
sampai sajak ini berhenti
dituliskan oleh aku

aku …………………

Sukabumi, Oktober 2015

biarlah aku saja

bila

tiba kesedihan
mengetuk pintu kamarmu
lalu kau tiba-tiba
mengutuk pikiran-pikiranmu
yang seringkali
tersudutkan oleh kenyataan

dan

kau tidak tahu pertanyaan
atau pernyataan seperti apa lagi
yang bisa menyelamatkanmu
dari rentetan serangan
bunyi-bunyi sunyi

ketahuilah

bahwa kau selalu bisa
melarikan diri dan
bersembunyi di belakang kata
kata yang ada pada sajak ini

biarlah

cukup aku saja yang mati
ditembak atau ditombak
oleh pasukan gerilya
yang menamai diri mereka

sepi

Sukabumi, Oktober 2015

Matamu

1.
Kenyataan ternyata
sanggup merenggut
nyala matamu.

2.
Bahkan di dalam mimpi
kau belum juga mampu
mengembalikan cahaya
sepasang matamu.

3.
Entah dengan alasan apa
kau lebih memilih maskara
sebagai satu-satunya cara
menipu keresahan matamu.

4.
Kesedihan begitu setia
berlindung di balik rahasia
yang betah berbulan-bulan
tinggal dan enggan tanggal
dari sepasang matamu.

5.
Berhari-hari huru-hara
di dada dan kepala memaksa
kelopak matamu enggan mengatup
padahal malam sudah lelah dan
kalah oleh kegigihan matamu.

6.
Kau meletakkan bom waktu
yang kapanpun bisa meledak
menghamburkan gelak tangis
dari reruncing ujung matamu.

7.
Mataku mati tiap kali
bercermin pada matamu.

Oktober 2015

perihal kota kita dan kata

sepasang angan kita
dan sepasang tangan kata
berusaha menjangkau langit kota

kata dan kita saling menatap
sebab tinggal gelap
yang tersisa di atap

kita adalah lampu jalan
kata adalah marka jalan
keduanya hidup berdampingan

ketika kota kehilangan cahaya
kata dan kita tak boleh kehabisan daya

Sukabumi, Oktober 2015

Kisah Menantikan Kekasih

1/

Pada awalnya, kasih tak pernah kutakar, apalagi
sengaja kutukar. Rindu tiap hari mekar. Bara
asmara tengah berkobar. Tetapi, kau tiba-tiba
hilang tanpa kabar. Kabur menanggalkan dan
meninggalkan kisah yang belum kelar.

Namun, aku setia menantimu dengan sabar.
Bersama waktu yang terus-menerus berputar,
penantianku tidaklah sebentar.

Hingga suatu hari, ada kabar yang pahit
terdengar. Samar-samar, kulihat ada sebuah
kartu undangan di meja kamar: undangan
pernikahanmu yang katanya tak sendiri kauantar.

Kau telah dipinang oleh seorang pria yang
tentunya lebih pintar. Getir raga serta jiwaku
serempak kompak bergetar.

2/

Ada janur kuning yang tinggi berkibar. Pada hari
pernikahanmu, kepalaku disiksa jangar. Di depan
altar, di jari manismu, pastinya sebuah cincin
emas telah melingkar.

Sedang air yang memabukkan ini berusaha
menguatkanku agar tidak jatuh terkapar
mengetahui sisa harapan dari kesetiaan yang
sudah buyar. Tetapi, pada akhirnya aku jatuh juga
ke dalam pengar.

Tadinya, kukira semesta hanya sedang
berkelakar. Tetapi, ternyata semua ini adalah
benar. Ada janji yang harus rela ingkar. Sepasang
kesetiaan dan penantian harus rela bubar.

Hati yang dahuli kupagar, terpaksa harus segera
kupugar. Kotak kenangan harus segera kubongkar.

3/

Pada akhirnya, aku hanya menua pada kesetiaan.
Binasa pada kesia-siaan penantian.

Serupa daun yang jatuh perlahan pada tanah
yang garing. Serupa aku yang meruntuh perlahan
lalu mati mengering.

2012